1. Cerita Horor
Korban Tumbal
Cerita ini benar terjadi. Saya punya adik perempuan yang selisih umurnya dua tahun di bawah saya. Sejak dia pindah rumah ke rumah mertuanya, dia sering sakit-sakitan.
Hidupnya selalu kekurangan. Tapi, dia wanita yang gak mau tinggal diam. Dia mencari cara untuk mencukupi kebutuhan keluarganya dengan berjualan makanan di depan rumahnya.
Alhamdulillah, dagangannya laris. Tapi, sejak itu, sakitnya malah makin parah. Dia sering mengeluarkan darah berwarna kehitaman dari kemaluannya seperti orang yang sedang haid dan perutnya sering sakit.
Dia berobat ke dokter dan dilakukan USG, dokter bilang dia hamil. Dia sering cerita ke saya tentang penyakitnya. Tapi, dia senang waktu tahu kalau ternyata dia hamil. Saya gak percaya saat saya lihat foto USG-nya. Saya bilang ini aneh.
Biasanya, USG kandungan di awal kehamilan gambarnya bulat. Tapi, ini seperti gunung kecil. Hampir mirip segitiga. Saya anjurkan dia untuk beli test pack. Dia tes, hasilnya negatif. Coba sekali lagi. Hasilnya sama. Negatif juga.
Sejak itu, dia mulai pergi berobat ke orang pintar. Seorang kakek. Kakek itu bilang dia disantet. Ada sesuatu yang ditanam di depan rumahnya. Setelah dua kali berobat dengan kakek itu, dia ngerasa enakan.
Tapi, itu tidak berlangsung lama, karena seminggu kemudian ternyata kumat lagi. Dia kembali mengeluarkan darah dan perutnya makin sakit.
Dia pergi berobat ke tempat lain. Orang pintar juga. Jawabannya cukup mengerikan.
Adik saya itu sedang hamil secara gaib. Janin yang di dalam perutnya adalah bayi ular. Ternyata, dia digauli setan yang berwajah menyerupai suaminya.
Bahkan, setan itu merasuki suaminya saat menggauli adik saya. Maaf, ini bukan cerita porno. Tapi, ini kenyataan.
Setan itu berwujud ular. Kadang menyerupai sosok pria rupawan. Bahkan sangat tampan. Dan ular itu dipelihara oleh seseorang yang melakukan pesugihan, dan adik saya adalah calon korbannya sebagai korban tumbal pesugihan.
Usut punya usut, ternyata pelakunya adalah tetangga yang rumahnya dekat dengan rumah adik saya. Penduduk di sana banyak yang tau cerita itu tapi semua bungkam. Tidak bisa berkata apa-apa. Karena takut diganggu.
Sudah banyak korban di daerah sana. Semua korbannya adalah wanita muda umur 20-35 tahun.
2. Cerpen Horor
Desi dan Bina adalah perawat baru di rumah sakit terseram di kota J. Sudah puluhan kali mereka mendengar cerita hantu tentang rumah sakit tersebut dari kawan-kawannya.
Namun, karena mereka berdua sangat cuek, mereka tidak mudah mempercayainya.
Ketika Desi bertugas malam hari, datang sesorang pria dengan wajah pucat. Desi berpikir kalau orang itu sedang sakit parah.Saat Desi memanggil dokter, tiba-tiba orang tersebut menghilang.
“Kamu lihat di mana, Des? Orang itu udah gak ada,” kata Dokter Ridwan.
“Masa, sih, Dok? Tadi ada di depan. Sudah pulang mungkin, ya?” jawab Desi.
Memasuki jam pulang, Desi menemukan ludah di lantai ruang piketnya. Dia pun membersihkannya dengan ketus sambil berpikir siapa yang melakukan perbuatan jorok tersebut.
Setibanya di kosan, Desi bercerita pada Bina tentang pasien yang tiba-tiba hilang itu. Jangan-jangan, kata Bina, pasien itu adalah hantu.
Saat Bina ingin ke kamar mandi, dia menemukan ludah yang sangat banyak di kloset. Padahal, Desi saat itu belum masuk ke kamar mandi. Dia juga merasa tidak pernah meludah.
“Siapa sih yang ngeludah di kamar mandi gue. Elo, ya, Des?” tanya Bina.
Mendengar itu, Desi tercengang. Dia teringat dengan ludah di lantai rumah sakit. Dia juga melihat ludah-ludah lainnya di bawah kasur hingga dekat pintu kosan.
Tanpa pikir panjang, Desi buru-buru mengajak Bina keluar. Namun, saat mereka membuka pintu, sosok pocong dengan wajah seram berdiri tepat di depannya. Pocong itu meludah dengan mata melotot.
Desi pun pingsan, sedangkan Bina berteriak histeris sambil pergi meninggalkan Desi yang tergeletak di depan pintu kosannya.
3 . Cerita Seram
Hantu ‘Teman’ di Pesantren
Kisah ini dialami oleh seorang lulusan pesantren bernama Fazri Ramdhan. Berikut ceritanya.
Cerita mistis di lingkungan pesantren sudah bukan hal yang asing. Entah itu sebuah kebetulan atau apa. Aku tidak bisa menjelaskannya.
Sebagai orang yang pernah ‘nyantri’, aku pun pernah mengalami hal tersebut. Beberapa kali aku mengalami kejadian seram semasa tinggal di pesantren.
Ada satu kejadian yang masih kuingat sampai sekarang, padahal kejadian tersebut sudah belasan tahun berlalu.
Jadi, pada satu malam, aku dan temanku bernama Amin sedang diam di lantai 2 asrama sambil menyetrika baju.
Saat itu, pesantren sedang libur sehingga kami bisa menghabiskan waktu dengan melakukan kegiatan yang kami inginkan karena kegiatan rutin santri diliburkan.
Banyak juga anak-anak yang pulang kampung karena liburan yang cukup lama. Yang tersisa di asrama adalah anak-anak yang rumahnya di pulau seberang seperti Amin atau mereka yang memang tidak mau pulang walaupun dekat seperti aku.
Posisi asrama tepat berada di belakang bangunan sekolah. Jadi, kami menyetrika baju sambil melihat pemandangan bagian belakang bangunan sekolah yang gelap karena lampu kelas tidak dinyalakan.
Lampu jalan pun tidak ada sama sekali. Jadi bisa dibayangkan, di depan asrama keadaannya benar-benar gelap gulita.
Kembali kepada Amin dan aku yang sedang menyetrika. Saat sedang asik menyetrika, aku melihat di bawah ada bayangan orang yang berjalan pergi menjauhi asrama. Kami berdua mengenalinya. Sebut saja namanya Yahya.
Amin lalu memanggilnya sambil agak berteriak karena kami ada di lantai yang berbeda. Yahya pun menyahut. Terjadilah percakapan singkat antara keduanya tapi aku lupa apa isi perbincangannya.
Kami pun melanjutkan kegiatan menyetrika sampai tiba-tiba dari dalam kamar ada seorang teman bertanya kepada Amin.
“Min, kamu mengobrol dengan siapa?” tanyanya.
“Si Yahya,” jawab Amin singkat.
“Hah? Dia sudah pulang tadi siang ke Jakarta.”
Aku baru ingat, Yahya memang pulang dijemput oleh keluarganya.
“Ah masa? Lalu yang berbicara denganku barusan siapa?”
Pertanyaan Amin itu kemudian menjadi akhir dari kegiatan kami menyetrika dan kami pun buru-buru masuk ke dalam kamar sementara baju-baju kami biarkan bercecer di meja setrika.
Biarlah, nanti pagi dibereskan dan malam itu kami tidur berdempetan di kasur sempit karena ketakutan.
No comments:
Post a Comment